Latest Post

Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

PROFIL ALUMNI ROHIS SMAN I JASINGA (AROJA)

Written By irdatel on Rabu, 30 Januari 2013 | 21.07

* Ditulis oleh Halimatusadiyah (Yayah), alumni SMAN I Jasinga, Angkatan 2004, mahasiswa UNJ Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 9, Sekretaris Umum Aroja 1428—1430 H.
Setelah sekian lama, SMAN I JASINGA telah berhasil memberikan suplai alumni yang di antaranya (dahulu) merupakan aktivis ekstrakurikuler (ekskul) kerohanian Islam (Rohis). Hingga kini, ekskul tersebut (Rohis) masih tetap eksis dalam membangun lingkungan dan wawasan yang Islami di SMAN I JASINGA.
Akan tetapi,  seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi, semakin berat pula tantangan yang dihadapi oleh para aktivis Rohis. Hedonisme serta liberalisme semakin merajalela. Pengaruh pergaulan, media, serta kurangnya pengarahan dari keluarga terhadap bimbingan dan religiusitas anak telah mengakibatkan semakin merosotnya moral dan intelektualitas para pelajar.
Kegiatan mentoring islami yang kami rintis menjadi sebuah program unggulan dalam membina pelajar SMAN I JASINGA agar dapat membentengi diri dengan keimanan yang kuat dalam melawan berbagai arus negatif itu. Melalui mentoring, para siswa diajak untuk mengenal Allah, mengenal Islam, berakhlaqul karimah, dengan didampingi oleh seorang mentor yang biasanya merupakan kakak kelas atau alumni Rohis sebelumnya. Kami percaya, pembinaan akhlaq dan moral secara kontinyu dapat secara bertahap menjadikan para pelajar SMAN I JASINGA sebagai generasi robbani, generasi qurani, yang berkepribadian mulia, yang mampu membuat sekolah bangga terhadapnya.
Beratnya tantangan dari eksternal serta kebutuhan akan mentor dari internal mengharuskan kami untuk lebih mengembangkan jaringan, paradigma, dan kreativitas kami. Kami tidak bisa diam saja menghadapi kenyataan ini.
Di akhir kepengurusan Rohis di bawah kepemimpinan Akh Dudung Durrahman (2002–2003), mulai tercetus ide untuk mengumpulkan para alumni Rohis dalam suatu forum. Selain untuk menjaga tali silaturahim, hal ini pun dimaksudkan agar para alumni dapat membantu berjalannya program-program Rohis, terutama membantu dalam hal menjadi mentor di sekolah. Ide ini diusung oleh Pembina Rohis kami pada saat itu, yakni Bapak Aenudin, yang juga merupakan guru PAI di sekolah kami, serta pengurus DIR (Dewan Izzah Rohis) pada saat itu (Akh Imam Mukhlis, Akh Anugrah Resmana, dkk). Namun, niat tersebut belum juga dapat terealisasikan.
Tatkala Akh Dudung dan kawan-kawan hendak mengakhiri masa studinya di sekolah (saat itu, Rohis diketuai oleh Akh Yopi Mulyana), kami mulai serius menggarap keinginan untuk membuat forum alumni tersebut. Kepanitiaan pun dibentuk. Perencanaan pun dibuat. AlhamduliLlaah, pada tanggal 3 Syawal 1425 H, panitia berhasil mengadakan reuni akbar alumni Rohis SMAN I JASINGA. Sekitar 80 orang yang hadir pada saat itu. Di akhir acara, di-launching-lah AROJA (Alumni ROhis SMAN I JASINGA) dengan Akh Ruyatna dan Akh Haris Fadhillah sebagai Ketua Umum dan Sekretaris perdananya.
Pada masa kepemimpinan Akh Ruyatna ini, telah disusun AD/ART Aroja. Aroja pun mulai mambantu berjalannya kegiatan Rohis, terutama pada masa penerimaan siswa baru. Dalam hal ini, disepakati sebuah program bersama Aroja dan Rohis khusus untuk menyambut anggota baru Rohis, yaitu sebuah acara yang diberi nama OBOR MALAM (Out Bond Of Rohis plus Mabit dan Silaturrahim). Hingga kini, acara ini menjadi program kerja rutin Rohis SMAN I JASINGA.
Baru sampai di situ, lagi-lagi kesulitan menghadang. Para alumni sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Masa kepengurusan yang semula disepakati selama 2 tahun, mengalami status quo pada tahun yang ketiga.
Kemudian akhirnya, dengan niat yang tulus dan ikhtiar yang kuat, pada awal syawal 1428 H terpilihlah ketua Aroja yang baru mengantikan Akh Ruyatna, yaitu Akh Anugrah Resmana. Di bawah kepemimpinan beliau, Aroja mengalami beberapa perubahan.
Berikut struktur organisasi Aroja:
Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini.
Pembina: (= Pembina Rohis SMANJAS)
Koordinator Umum: Anugrah Resmana (2003)
Sekretaris Umum: Halimatusadiyah (2004)
Bendahara Umum: Tati Indriyati (2004)
Koordinator Zona 1 (Bogor) :
Rai Sita (2006)
Koordinator Zona 2 (Jakarta, Ciputat, Bekasi, Depok):
Anugrah Resmana (2003)
Koordinator Zona 3 (Banten):
Ruyatna (2002)
Koordinator Zona 4 (Bandung, Yogyakarta, Jateng, Jatim):
Almi Novitasari (2004)
Divisi Pembinaan: Ade Hermawan (2002), Siti Maryam (2005), Rai Sita (2006)
Divisi Humas: Ruyatna (2002), Dede Misbahudin (2004), Chintya Dewi A. (2004)
Divisi Ketua Pakar Ketua Telematika dan IT Webmaster Teknologi: Tads
( Divisi Khusus dibidang pembuatan Website dan Software juga Cyber Online)


Saat ini, Aroja kabinet Akh Anugrah telah memasuki tahun kedua masa kepengurusannya. Beberapa program yang telah berhasil dilakukan di antaranya: pengelolaan mentoring, silaturrahim ikhwah se-Jasinga, pembuatan buletin Aroja, e-mail Aroja, blog Aroja, serta milis Aroja.
Semoga ke depannya, Aroja dapat semakin berkembang dan mampu membawa perbaikan demi perbaikan untuk kemajuan Islam di Jasinga. Aamiin …
Wallahu a’lam bi showab

Sejarah Legenda Naga Cina & Penampakannya

Written By irdatel on Minggu, 19 Juni 2011 | 21.37

Naga, makhluk mitologi paling terkenal di dunia. Seluruh dunia memiliki legendanya masing-masing. Namun tidak bisa disangkal kalau Naga dari legenda Cina adalah yang paling menarik. Mungkinkah makhluk terbang bertubuh ular, bertanduk dan memiliki cakar itu benar-benar ada?


Di Eropa, naga selalu dilambangkan sebagai makhluk yang jahat. Namun, bagi masyarakat Cina, naga melambangkan kekuatan dan kekuasaan. Begitu besarnya penghormatan bangsa Cina kepada makhluk ini sehingga kaisar-kaisar yang gagah perkasa dengan bangga mengenakan gambar naga sebagai simbol mereka.

Bagi bangsa Cina, naga adalah salah satu dari empat makhluk spiritual yang mendapat penghormatan tertinggi. Tiga makhluk lainnya adalah Phoenix, Qilin (Kirin) dan Kura-kura. Namun diantara semuanya, naga adalah yang paling perkasa.

Karakteristik Naga dan angka 9
Di dalam mitologi Cina, naga memiliki kaitan yang sangat erat dengan angka "9". Misalnya, Naga Cina sesungguhnya memiliki 9 karakteristik yang merupakan kombinasi dari makhluk-makhluk lainnya.
  1. Ia memiliki kepala seperti unta
  2. Sisiknya seperti ikan
  3. Tanduknya seperti rusa
  4. Matanya seperti siluman
  5. Telinganya seperti lembu
  6. Lehernya seperti ular
  7. Perutnya seperti tiram
  8. Telapak kakinya seperti harimau
  9. Dan Cakarnya seperti rajawali.
Selain 9 karakteristik itu, naga di dalam mitologi Cina disebut memiliki 9 orang anak yang juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ia juga memiliki 117 sisik. 81 diantaranya memiliki karakter Yang (Positif) dan 36 lainnya memiliki karakter Yin (Negatif).

Pada umumnya, naga Cina memiliki tiga atau empat cakar di masing-masing kaki. Namun kerajaan Cina menggunakan lambang naga dengan lima cakar untuk menunjukkan kalau sang Kaisar bukan naga biasa. Lambang ini kemudian menjadi lambang ekslusif yang hanya boleh digunakan oleh sang kaisar. Siapapun yang berani menggunakan lambang naga dengan 5 cakar akan segera dihukum mati.

Empat Jenis Naga
Dalam literatur Cina, paling tidak ditemukan lebih dari 100 nama naga yang berbeda-beda. Namun, untuk mudahnya, Naga Cina biasanya hanya digolongkan ke dalam empat jenis, yaitu:
  1. Tien Lung atau Naga Langit yang bertugas menjaga istana para dewa.
  2. Shen Lung atau Naga Spiritual yang berkuasa atas angin dan hujan
  3. Ti Lung atau Naga Bumi yang berkuasa atas air di permukaan bumi
  4. Fucang Lung atau Naga dunia bawah bumi yang bertugas menjaga harta karun yang ada di dalamnya.
Empat jenis naga tersebut mungkin berbau spiritual, tetapi seperti yang saya katakan di atas, masih ada sekitar 100 nama naga lainnya. Dari sekitar 100 nama ini, terlihat kalau Naga Cina sebenarnya tidak selalu berhubungan dengan makhluk spiritual. Bisa jadi, naga tersebut adalah hewan yang memiliki fisik yang nyata. Karena itu, kita harus memisahkan antara Naga Spiritual dengan Naga sebagai hewan yang nyata.

Naga Cina dan Cryptozoology
Misalnya, Jiao Lung atau Naga Buaya. Naga jenis ini tidak bertanduk dan disebut sebagai pemimpin dari hewan-hewan air. Berdasarkan namanya, memang ada kemungkinan kalau naga jenis ini adalah seekor buaya. Penyebutan ini paralel dengan sebutan Komodo Dragon yang menggunakan nama naga untuk menyebut makhluk reptil raksasa Komodo. Nama ini jelas menunjukkan kalau Naga Cina tidak selalu berarti makhluk terbang bertubuh ular, bertanduk, bersungut dan bercakar.

Contoh lainnya adalah Pan Lung atau Naga Spiral. Naga jenis ini berdiam di danau dan belum bisa naik ke langit untuk menjadi makhluk spiritual. Naga jenis ini bisa jadi merujuk kepada makhluk air serupa ular atau belut. Contohnya adalah Oarfish (yang hidup di laut) yang memiliki karakteristik cukup unik sehingga orang sering membandingkannya dengan naga Cina

Ada kemungkinan kalau penampakan makhluk serupa Oarfish di danau-danau Cina telah dianggap sebagai penampakan naga. Lalu, ada Fei Lung alias Naga Terbang. Naga ini memiliki sayap dan mengendarai awan dan kabut. Menariknya, nama ini juga digunakan untuk menyebut Pterosaurus dalam bahasa mandarin. Fei Lung mungkin adalah jenis naga yang sama dengan naga Eropa.

Penampakan Naga di dalam sejarah Cina
Jika sebagian Naga Cina bisa dikategorikan ke dalam makhluk Cryptid, pernahkah ada kesaksian mengenai penampakannya? Jawabannya: Ada! Sejarah negara Cina telah dimulai sejak ribuan tahun sebelum masehi. Dalam kurun waktu tersebut, para cendikiawan mendokumentasikan setiap peristiwa dalam catatan-catatan yang rapi, termasuk peristiwa terlihatnya naga di berbagai tempat di Cina.

Namun, peristiwa yang dituangkan ke dalamnya mungkin telah diinterpretasikan berdasarkan pemahaman dan kebudayaan bangsa Cina masa lampau sehingga sebagian kisah itu terdengar cukup mistis. Namun, kisah lainnya memiliki kemiripan dengan kasus perjumpaan dengan makhluk Cryptid.

Salah satu contoh peristiwa penampakan naga tercatat dalam buku Recording for the Jiaxing Regional Government yang menceritakan kalau pada bulan September 1588, seekor naga berwarna putih terlihat terbang di atas permukaan danau Ping di wilayah Pinghu, propinsi Zhejiang. Cahaya yang keluar dari naga putih tersebut begitu terangnya sehingga menerangi sebagian langit dengan warna merah yang terang benderang.

Dalam buku lainnya, Recording for the Songjiang Regional Government, disebutkan kalau 20 tahun setelah penampakan naga putih di danau Ping itu, seekor naga putih serupa juga terlihat terbang di atas sungai Huangpu di Songjiang, Shanghai. Naga itu terlihat pada bulan Juli 1608. Seorang saksi mata mengaku melihat seorang dewa sedang berdiri di kepala naga itu.

Kesaksian mengenai adanya dewa yang mengendarai naga tersebut adalah contoh kesaksian perjumpaan dengan naga sebagai makhluk spiritual. Di samping itu, ada kesaksian-kesaksian lainnya yang sama sekali tidak menyebutkan adanya dewa atau naga yang terbang. Kesaksian-kesaksian ini terdengar sangat mirip dengan kisah-kisah penampakan makhluk cryptid pada umumnya. Di bawah ini beberapa contohnya:

Pada tahun ke-24 masa pemerintahan Kaisar Jian'an dari dinasti Dong Han (219 Masehi), seekor naga berwarna kuning muncul di sungai Chishui di kota Wuyang dan berdiam disitu hingga sembilan hari lamanya sebelum akhirnya pergi. Setelah itu, para penduduk desa membangun sebuah kuil disitu dan sebuah prasasti dibuat sebagai penghormatan kepada naga tersebut.

Pada bulan April tahun 345 Masehi, tahun pertama pemerintahan kaisar Yonghe, dua ekor naga, satu berwarna putih dan yang lainnya berwarna hitam, muncul di gunung Long. Peristiwa munculnya naga ini membuat kaisar Murong dari kerajaan Yan memimpin sejumlah pejabatnya menuju gunung itu untuk melihat naga-naga tersebut. Ketika sampai disana, mereka mengadakan upacara keagamaan pada jarak 200 yard dari kedua naga tersebut.

Ratusan tahun kemudian, di gunung yang sama, seekor naga kembali muncul. Peristiwa ini dicatat dalam buku History of the Yuan Dinasty
"Pada bulan Juli, tahun ke-27 masa pemerintahan kaisar Zhiyuan (1290 Masehi), seekor naga muncul di dekat gunung Long di wilayah Linxong, propinsi Shandong. Naga itu mampu membuat sebuah batu besar melayang di udara. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana cara naga tersebut membuat batu besar itu melayang.
Tahun 1162, seekor naga mati disebut ditemukan di danau Taibai. Naga ini memiliki sungut yang panjang dengan sisik yang besar. Punggungnya berwarna hitam sedangkan perutnya berwarna putih. Di punggungnya ada sebuah sirip, sedangkan di kepalanya ada dua tanduk besar. Karena makhluk itu mengeluarkan bau yang tidak sedap, para penduduk kemudian menutupinya dengan matras. Otoritas setempat pun segera memerintahkan pengadaan upacara sembahyang di lokasi itu. Satu hari setelah penemuan itu, bangkai naga itu hilang entah kemana.

Kesaksian lainnya dicatat oleh buku Recording for the Lin'an Regional Government yang menceritakan kalau pada tahun 1631, tahun ke-4 masa pemerintahan kaisar Chongzhen, seekor naga besar terlihat di sebuah danau di propinsi Yunan. Karena kemunculan ini, danau tersebut kemudian diberi nama Yilong yang berarti danau naga misterius. Nama ini masih digunakan hingga sekarang.

Buku lainnya, Amanded Recording of the Tang Dinasty, mencatat peristiwa penemuan seekor naga mati berwarna hitam di teritori Tongcheng. Peristiwa ini terjadi pada tahun terakhir pemerintahan kaisar Xiantong. Menariknya, buku ini memberikan deskripsi yang cukup detail mengenai naga tersebut. Disebutkan kalau panjang naga itu adalah sekitar 30 meter dimana setengahnya adalah ekornya. Ujung ekor naga tersebut pipih, sisiknya seperti ikan dan di kepalanya tumbuh dua tanduk. Sungut di samping mulutnya memiliki panjang 6 meter. Kakinya yang tumbuh di perutnya memiliki lapisan berwarna merah. Deskripsi ini sangat mirip dengan gambaran naga Cina klasik.

Buku Seven Books and Scriptures tulisan Long Ying juga mencatat peristiwa penemuan naga yang terjadi pada tahun terakhir pemerintahan kaisar Chenghua dari dinasti Ming. Naga itu ditemukan di pantai Xinhui, propinsi Guangdong. Nelayan yang melihatnya memukul makhluk itu hingga mati. Panjang naga tersebut kurang lebih 10 meter dan terlihat mirip dengan naga dalam lukisan-lukisan klasik. Kisah ini cukup aneh karena seorang nelayan yang melihat naga umumnya tidak akan memukulnya sampai mati, mengingat bangsa Cina sangat menghormati makhluk ini. Mungkin makhluk itu mengganggu sang nelayan, namun kita tidak bisa memastikannya.

Buku History for the Yongping Regional Government mencatat kalau pada musim semi tahun ke-19 masa pemerintahan kaisar Daoguang (1839), seekor naga ditemukan di pinggir sungai Luanhe di wilayah Laoting. Bangkai naga itu terlihat dikerubungi oleh lalat dan belatung. Penduduk lokal kemudian membangun sebuah tempat perlindungan untuk melindunginya dari sinar matahari langsung. Mereka juga menyiram air dingin ke tubuhnya. Legenda menyebutkan kalau tiga hari kemudian, Naga itu kembali hidup dan pergi begitu saja.

Peristiwa termodern yang menyangkut penemuan naga adalah yang terjadi pada Agustus 1944. Seekor naga hitam diberitakan jatuh ke tanah di desa Weizi di halaman rumah keluarga Chen, sekitar 9,4 mil barat laut wilayah Zhaoyuan, di sebelah selatan sungai Mudan di propinsi Heilongjiang. Naga hitam itu ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Para saksi mata mengatakan bahwa makhluk ini memiliki tanduk di atas kepalanya dan sisik yang menutupi seluruh tubuhnya. Makhluk itu memiliki bau seperti ikan yang menarik lalat untuk mengerumuninya.

Dari semua kesaksian itu, muncul satu pertanyaan yang menarik. Jika Naga yang disebutkan dalam sebagian kesaksian tersebut adalah hewan yang nyata, maka hewan apakah yang memiliki tubuh seperti ular, bertanduk, berkaki dan memiliki sungut di sisi mulutnya? Itulah misterinya.

Sumber : http://xfile-enigma.blogspot.com/2010/09/legenda-naga-cina-dan-penampakannya-di.html
 
Support : Modified Blog | Webmaster Murah | Trader Emas Terhandal
Copyright © 2011. SMAN 1 Jasinga - All Rights Reserved
Template by Maskolis
Proudly powered by Blogger